RELIEF
DI SENJA BIRU
Oleh Fajar Riza
Anindyka
Rintik
air hujan yang tak kenal lelah untuk turun membuat nyanyian merdu diantara
ranting-ranting yang basah. Tetesan air yang sedari tadi merayap di jendela
kaca melenyapkan pandanganku di luar sana. Tubuhku masih terkulai lemas di sofa
ruang tamu. Dihadapan kertas-kertas yang masih berserakan, kupejamkan mataku
perlahan yang mulai terasa berat.
Dalam
selimut kesunyian, ketukan pintu mebuatku harus mengumpulkan nyawaku kembali
untuk sekedar membuka mata. Pintu berdecit terbuka dan kutemukan sosok
perempuan dengan rambutnya yang tergerai dan pipinya yang basah akan air mata.
Tidak salah lagi, Sherly berdiri lemah dihadapnku dengan beribu kesedihan yang
menghiasi wajahnya.
“Kamu kenapa Sher?”. Mataku menatap lekat pada
wajah Sherly, menanti suara yang akan dia keluarkan dari bibirnya. “Vi, a...aku...”
tangis Sherly pecah seketika sebelum kata-katanya selesai terucap.
Raut
mukaku meregang, mencoba menerka apa yang terjadi pada sahabatku ini. Ku
sodorkan tubuhku sebagai tempat sandaran untuk Sherly. Perlahan, tanganku
meraih pundaknya dan mengusapnya lembut, berharap bisa membuatnya lebih tenang.
Kutarik
nafas panjang karena dadaku mulai terasa sesak melihat air mata yang mengalir
deras di sudut mata Sherly. “jika kamu sudah siap untuk berbicara, ceritalah
kepadaku!”
* * *
Kabut
pagi yang membelai lembut menyamarkan pandangan beberapa jengkal di depanku. Sosok-sosok
yang kulihat di kejauhan terlihat begitu samar, seperti onggokan dahan-dahan
tak berdaun.
Pandanganku
terhenti pada lelaki yang berjalan pelan di depanku. Dari cara dia berjalan,
cara dia berpakaian, dan gaya rambut cepakknya, aku tahu persis siapa sosok
yang memunggungiku. Sosok yang telah mengetuk hatiku perlahan. Namun, ketika
hati itu terbuka, dia hanya berlalu dan menutupnya kembali.
Memang
inilah jalan bagi wanita. Dimana wanita harus menunggu meskipun menunggu itu
bagaikan tercekik dalam kesunyian malam. Entah sejak kapan sejarah “wanita
menunggu” itu bergulir, namun sejarah itu mampu membungkam wanita akan cinta
yang dirasakannya. Membuatnya hanya bisa terdiam dan pasrah akan cerita cinta
yang terukir.
Perasaan
itu singggah begitu saja tanpa aku duga. Hal ini bermula pada suatu senja
dimana padang rumput yang luas itu menjadi tempat sandaran bagiku ketika aku
mengais imajinasiku untuk mengggoreskan tinta hitam di atas kertas yang pucat
pasi.
Dia
datang dengan kamera yang menggantung di lehernya. Masih tertata rapi dalam
memoriku akan senyuman pertama yang aku lihat di bibirnya. “Wow, pemandangan di
sini indah juga ya?” suara lantang itu membuyarkan kata-kata yang akan aku
tulis. Mataku beralih ke arahnya, dan dia melemparkan senyum itu tanpa ragu.
Tanpa
sepatah kata pun yang kuucap, aku hanya merespon dengan anggukan pelan yang mungkin
terlihat kaku. “Kamu sering ke sini?” kini langkah kakinya mendekat ke arahku. Dia
duduk bersila dengan tangannya yang masih sibuk mengatur fokus kamera. Sesekali,
suara jepretan itu terdengar.
“Iya.
Di sini, bisa membuatku merasa lebih tenang” jawabku yang mulai memberanikan
diri untuk bicara. “Kamu penulis ya? atau penyair?” sepertinya tak ada keraguan
dalam setiap kata yang terucap dari mulutnya. Mungkin, itu yang mampu memecah
kebekuan di antara kami. “Aku hanya menulis cerita. Dan disinilah, tempat
imajinasiku dapat kukumpulkan”.
Dalam
ketenangan senja yang semakin mendekap, kami menghabiskan waktu di sana untuk
melakukan dua hal berbeda, menulis, dan mengambil gambar. Mungkin, sejak saat
itulah aku merasa nyaman di dekatnya. Dan senja-senja setelahnya, kami masih
bertemu dengan ukiran jelas akan nama lelaki itu, “Edgar”.
* * *
“Viola..
Vio..” teriakan itu membuatku membalikkan tubuh. “Sherly” raut muka Sherly yang
semakin pucat tiap harinya terlukis jelas. “Kuliahmu udah selesai kan?” di
balik pucat pasi wajah Sherly, dia masih bisa mnyematkan senyum tipis di
bibirnya. “Udah Sher. Ada apa?”. “Bawa aku jalan-jalan Vi” pinta Sherly
kepadaku. “Tapi kan, kamu sedang sa...”
Belum
selesai kata-kataku terucap, Sherly meraih tanganku dan memasang muka memelas penuh
harap ”Ayolah Vi. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku
dengan kenangan-kenagan yang indah”. Mataku menatap lekat wajah Sherly yang
sepertinya tersimpan beribu kesedihan di balik senyum yang ia paksakan. Kali
ini, aku tak akan mampu untuk menolak keinginan Sherly. Keinginan yang mungkin
hanya beberapa kali saja bisa aku penuhi.
Tak
tau harus mengajak Sherly kemana, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke taman yang
biasa aku kunjungi. Di bawah pohon dengan hamparan rumput hijau sejauh mata memandang,
Sherly hanya terdiam dan menutup matanya lekat-lekat. Sesekali, tarikan nafas
berat Sherly terdengar jelas di telingaku. “Ini bener-bener indah Vi” mata Sherly
berbinar dan beralih menatap ke arahku.
Aku
bersyukur, hari ini senja bersahabat denganku. Langit merah bercampur dengan
orange menampakkan lukisan indah di langit. Awan-awan dengan semburat tipis
bergelantungan di atas mata kami. Angin pun dengan suara lirihnya menyambut
kami dengan nyanyiannya yang merdu.
“Makasih
ya Vi, kamu selalu ada di samping aku di saat aku benar-benar rapuh” suara
pelan Sherly memecah kesunyian. Sherly masih dengan kuatnya mengucapkan kata-kata itu sementara mataku terasa penuh
sesak oleh air mata yang mendesak keluar. “Sherly... jangan bicara seperti itu
lagi. Kamu pasti bisa sembuh. Apa kamu tega meninggalkan aku? Jangan pernah
menyerah Sher. Jangan kamu biarkan penyakit itu mengendalikanmu...”
Air
mataku pecah seketika tanpa bisa kubendung lagi. Penyakit kangker otak yang menggerogoti
Sherly sudah memasuki stadium empat. Aku tahu betapa hancur dan rapuhnya
Sherly. Di saat mimpi-mimpinya yang belum tergapai, dia harus menelan pahitnya
berjuang melawan penyakit mematikan itu. Namun, aku masih lega ketika melihat
senyum yang selalu Sherly tunjukkan padaku, meskipun aku tahu senyum itu
menyimpan beribu beban berat yang harus dipikulnnya. Senyum yang mungkin akan
aku rindukan suatu saat nanti.
* * *
“Vi,
sebenranya, ada seseorang yang pengen banget aku temui” suara Sherly bergelut
diantara keramaian. Kami berdua duduk dengan buku yang sama-sama kami baca di
depan fakultas bahasa. “Siapa Sher?” kualihkan pandanganku dari huruf-huruf
yang tertapa rapi di kertas putih ini. Kulihat wajah Sherly sembari menunggu
gerak bibirnya menjawab. “Aku ingin ketemu Edgar Vi. Kamu kenal dia kan?”.
“Edgar?
Apakah Edgar yang dia maksud adalah Edgar yang ku kenal?” aku masih
menerka-nerka dalam hati. “Maksudmu, Edgar anak fotografer itu?” tanyaku
meminta kepastian. Sherly hanya mengangguk pelan dengan kedua ujung bibirnya
yang terangkat.
“Jujur
Vi, aku suka sama dia sejak dulu. Aku bener-bener merasa nyaman ada di
sampingnya. Tapi, melihat kondisiku sekarang...” suara Sherly terhenti. “Mustahil
aku bisa bersanding dengannya lebih lama” lanjutnya dengan tatapan penuh
keputusasaan. Mendengar pengakuan Sherly, hatiku tersentak kaget. “Ternyata,
lelaki yang selalu didambakannya selama ini adalah lelaki yang juga aku impikan”
pelikku dalam hati.
Keesokan
harinya, aku bertemu dengan Edgar di taman. Senja hari ini, tak sebaik senja
kemarin. Awan-awan kelam menutupi rona langit yang indah. Semua hanya terlihat
kelabu dengan gemerisik gesekan ranting yang terdengar ngilu.
“Ada
apa Vi kamu mengajakku bertemu di sini?” suara Edgar mulai merayap diantara
kicauan burung yang melintas di langit. Kutarik napas dalam-dalam seolah
kata-kata ini akan menjadi cerita yang panjang. “Sherly sakit gar” mataku masih
mentap kosong pada rerumputan hijau yang terhampar dihadapanku. Kalimat demi
kalimat aku keluarkan untuk menjelaskan keadaan Sherly saat ini pada Edgar.
“Edgar,
aku punya satu permintaan darimu. Tolong temani Sherly di saat-saat tersulit
dalam hidupnya. Dia butuh kamu. Aku yakin, kamu pasti bisa memberinya semnagat
yang lebih agar dia bisa melawan penyakitnya”. Mataku memohon penuh harap pada
Edgar. “Lalu, apa yang bisa aku lakukan Vi?”. Suara Edgar terdengar lebih
lantang dari sebelumnya. Kurendahkan suaraku dan berat hati aku berkata “Jadilah
kekasihnya”.
“Kamu
gila Vi? Aku gak mencintai dia. Aku hanya mengganggap dia sebagai teman, tidak
lebih dari itu. Aku gak bisa Vi karena aku sudah terlanjur mencintai seseorang”
suara tegas Edgar berdenging kuat di telingaku. Aku yang masih berpacu untuk
membujuk Edgar, mulai kehabisan kata-kata.
“Tolonglah
untuk sekali ini saja Gar... aku mohon!” kurasakan mataku mulai memerah dan
pandanganku mulai buram akibat air mata yang perlahan menutupi. “Asalkan kamu
tahu Vi, orang yang telah mengisi hatiku itu... kamu Vi”. Dan kini, air mataku
mengalir perlahan melalui ujung mata. Tetes demi tetes semakin menghujam deras.
“Jika
kamu mencintaiku, maka, kabulkanlah permintaanku. Berdalah di sampingnya”. Kata-kata
itu masih bisa aku rangkai rapi di sela-sela isakanku yang coba aku redam. “Jika
itu memang maumu, baiklah, aku akan menuruti kemauanmu Vi”.
Kata-kata
itulah yang terkhir ku dengar dari mulut Edgar di senja ini. Kini aku aku hanya
bisa tertunduk lemas dihadapan senja kelam. senja yang kini membiarkan air
mataku membashi alasnya. Senja yang hanya bisa menyaksikan isakanku dari balik
matanya. Dan senja yang mendekapku erat dalam pelukannya.
* * *
Waktu
berputar begitu cepat, hingga kini aku berada di puncak kisah antara aku, Edgar
dan Sherly. Edgar yang masih teguh akan kata-katanya, kini selau berada di
samping Sherly. Melihat mereka bersama, entah senang atau sedih yang aku
rasakan. Hati ini serasa tergores oleh kapas yang bgeitu lembut. Sakit memang menerima
semua ini, tapi kebahagiaan Sherly tak bisa untuk aku tunda lagi. Aku tidak
mungkin meninggikan egoku demi kebahagiaanku sendiri.
Dadaku
semakin sesak ketika lelaki yang aku idamkan bersanding dengan sahabatku
sendiri. Sekelebat bayangan antara dua pilihan “cinta” atua “sahabat” selalu
membuat otakku serasa memar memikirkannya. Keduanya sama-sama berharga bagiku. Apakah aku harus
memperjuangkan cinta yang mulai mengetuk hatiku perlahan, atau tetap bersanding
dengan persahabatan.
Aku
tidak mengerti kenapa harus cinta Edgar yang berhasil membuka hatiku. Cinta
yang tak pernah kuundang untuk sekedar singgah, malah berlabuh dengan
tali-talinya yang mengikat kuat.
Namun,
aku telah tetapkan pilihanku untuk melukiskan senyum di bibir Sherly. Meskipun
aku tidak bisa mengurangi sakit yang di deritanya, tapi aku berharap bisa
membantunya memikul beban berat yang melumpuhkannya saat ini.
* * *
Saat
memilukan itu pun tiba. Saat dimana kondisi fisik Sherly terpuruk. Dalam
kondisinya yang benar-benar buruk ini, Sherly memintaku dan Edgar untuk
membawanya pergi ke taman. Senja itu, kami berdua pun membawa Sherly ke taman.
Sesampainya
di taman, Sherly duduk tenang di atas kursi rodanya. Tiada satupun suara yang
keluar dari mulut kami bertiga. Hanya keheningan senja yang mengitari kami. “Vi..”
suara lemah Sherly memanggil namaku. “Iya Sher” sontak, kuayunkan tubuhku di
hadapan Sherly. Kutatap mata nanar itu lekat-lekat. “Makasih atas semua kebahagiaan
yang berikan ke aku selama ini. Aku bersyukur bisa punya teman seperti kamu”.
Selang
beberapa detik, suara lemah Sherly kembali terdengar “Edgar..”. kali ini Edgar
juga melakukan hal yang sama denganku. Di hadapan Edgar, senyum itu kembali
kulihat dari bibir Sherly. “Makasih juga karena kamu selalu ada di sampingku. Dan
aku punya satu permintaan untuk kamu”. “Apa Sher?” kini suara Edgar terdengar
begitu tenang. “Tolong jaga Viola ya. Aku titip sahabatku ini. lindungi dia ya?”
sebelum sempat Edgar menjawab, napas terakhir Sherly telah berhembus. Di balik
wajahnya yang pucat, senyuman Sherly masih bisa aku lihat jelas. Senyuman yang
sepertinya menandakan bahwa dia meninggalkan kami dengan tenang. Dan ternyata,
inilah kisah yang terukir anatar kami bertiga.
Senja
hanya memandangiku dengan tatapan memelas. Di balik senja ini, beribu cerita
tersemat rapi menjadi relief kisah diantara rimbunan rumput hijau dan awan yang
saling bertindih. Cerita akan tawa, canda, persahabata, perjuangan, kehilangan,
dan kebahagiaan menjadi bait-bait sejarahku yang terukir abadi. Andai hidup
adalah cerita novel yang bisa aku gores dan aku tentukan alur ceritanya, maka
semua pasti akan berakrir bahagia. Namun, hidup bukanlah cerita klise dari
sebuah novel, akan tetapi garis tangan yang telah ditentukan dimana akan indah
pada waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar