Rabu, 10 Juni 2015

CERPEN ROMANCE


RELIEF DI SENJA BIRU
Oleh Fajar Riza Anindyka

Rintik air hujan yang tak kenal lelah untuk turun membuat nyanyian merdu diantara ranting-ranting yang basah. Tetesan air yang sedari tadi merayap di jendela kaca melenyapkan pandanganku di luar sana. Tubuhku masih terkulai lemas di sofa ruang tamu. Dihadapan kertas-kertas yang masih berserakan, kupejamkan mataku perlahan yang mulai terasa berat.
Dalam selimut kesunyian, ketukan pintu mebuatku harus mengumpulkan nyawaku kembali untuk sekedar membuka mata. Pintu berdecit terbuka dan kutemukan sosok perempuan dengan rambutnya yang tergerai dan pipinya yang basah akan air mata. Tidak salah lagi, Sherly berdiri lemah dihadapnku dengan beribu kesedihan yang menghiasi wajahnya. 
 “Kamu kenapa Sher?”. Mataku menatap lekat pada wajah Sherly, menanti suara yang akan dia keluarkan dari bibirnya. “Vi, a...aku...” tangis Sherly pecah seketika sebelum kata-katanya selesai terucap.  
Raut mukaku meregang, mencoba menerka apa yang terjadi pada sahabatku ini. Ku sodorkan tubuhku sebagai tempat sandaran untuk Sherly. Perlahan, tanganku meraih pundaknya dan mengusapnya lembut, berharap bisa membuatnya lebih tenang.
Kutarik nafas panjang karena dadaku mulai terasa sesak melihat air mata yang mengalir deras di sudut mata Sherly. “jika kamu sudah siap untuk berbicara, ceritalah kepadaku!”
* * *
Kabut pagi yang membelai lembut menyamarkan pandangan beberapa jengkal di depanku. Sosok-sosok yang kulihat di kejauhan terlihat begitu samar, seperti onggokan dahan-dahan tak berdaun.
Pandanganku terhenti pada lelaki yang berjalan pelan di depanku. Dari cara dia berjalan, cara dia berpakaian, dan gaya rambut cepakknya, aku tahu persis siapa sosok yang memunggungiku. Sosok yang telah mengetuk hatiku perlahan. Namun, ketika hati itu terbuka, dia hanya berlalu dan menutupnya kembali.
Memang inilah jalan bagi wanita. Dimana wanita harus menunggu meskipun menunggu itu bagaikan tercekik dalam kesunyian malam. Entah sejak kapan sejarah “wanita menunggu” itu bergulir, namun sejarah itu mampu membungkam wanita akan cinta yang dirasakannya. Membuatnya hanya bisa terdiam dan pasrah akan cerita cinta yang terukir.
Perasaan itu singggah begitu saja tanpa aku duga. Hal ini bermula pada suatu senja dimana padang rumput yang luas itu menjadi tempat sandaran bagiku ketika aku mengais imajinasiku untuk mengggoreskan tinta hitam di atas kertas yang pucat pasi.
Dia datang dengan kamera yang menggantung di lehernya. Masih tertata rapi dalam memoriku akan senyuman pertama yang aku lihat di bibirnya. “Wow, pemandangan di sini indah juga ya?” suara lantang itu membuyarkan kata-kata yang akan aku tulis. Mataku beralih ke arahnya, dan dia melemparkan senyum itu tanpa ragu.
Tanpa sepatah kata pun yang kuucap, aku hanya merespon dengan anggukan pelan yang mungkin terlihat kaku. “Kamu sering ke sini?” kini langkah kakinya mendekat ke arahku. Dia duduk bersila dengan tangannya yang masih sibuk mengatur fokus kamera. Sesekali, suara jepretan itu terdengar.
“Iya. Di sini, bisa membuatku merasa lebih tenang” jawabku yang mulai memberanikan diri untuk bicara. “Kamu penulis ya? atau penyair?” sepertinya tak ada keraguan dalam setiap kata yang terucap dari mulutnya. Mungkin, itu yang mampu memecah kebekuan di antara kami. “Aku hanya menulis cerita. Dan disinilah, tempat imajinasiku dapat kukumpulkan”.
Dalam ketenangan senja yang semakin mendekap, kami menghabiskan waktu di sana untuk melakukan dua hal berbeda, menulis, dan mengambil gambar. Mungkin, sejak saat itulah aku merasa nyaman di dekatnya. Dan senja-senja setelahnya, kami masih bertemu dengan ukiran jelas akan nama lelaki itu, “Edgar”.
* * *
“Viola.. Vio..” teriakan itu membuatku membalikkan tubuh. “Sherly” raut muka Sherly yang semakin pucat tiap harinya terlukis jelas. “Kuliahmu udah selesai kan?” di balik pucat pasi wajah Sherly, dia masih bisa mnyematkan senyum tipis di bibirnya. “Udah Sher. Ada apa?”. “Bawa aku jalan-jalan Vi” pinta Sherly kepadaku. “Tapi kan, kamu sedang sa...”
Belum selesai kata-kataku terucap, Sherly meraih tanganku dan memasang muka memelas penuh harap ”Ayolah Vi. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengan kenangan-kenagan yang indah”. Mataku menatap lekat wajah Sherly yang sepertinya tersimpan beribu kesedihan di balik senyum yang ia paksakan. Kali ini, aku tak akan mampu untuk menolak keinginan Sherly. Keinginan yang mungkin hanya beberapa kali saja bisa aku penuhi.
Tak tau harus mengajak Sherly kemana, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke taman yang biasa aku kunjungi. Di bawah pohon dengan hamparan rumput hijau sejauh mata memandang, Sherly hanya terdiam dan menutup matanya lekat-lekat. Sesekali, tarikan nafas berat Sherly terdengar jelas di telingaku. “Ini bener-bener indah Vi” mata Sherly berbinar dan beralih menatap ke arahku.
Aku bersyukur, hari ini senja bersahabat denganku. Langit merah bercampur dengan orange menampakkan lukisan indah di langit. Awan-awan dengan semburat tipis bergelantungan di atas mata kami. Angin pun dengan suara lirihnya menyambut kami dengan nyanyiannya yang merdu.
“Makasih ya Vi, kamu selalu ada di samping aku di saat aku benar-benar rapuh” suara pelan Sherly memecah kesunyian. Sherly masih dengan kuatnya mengucapkan  kata-kata itu sementara mataku terasa penuh sesak oleh air mata yang mendesak keluar. “Sherly... jangan bicara seperti itu lagi. Kamu pasti bisa sembuh. Apa kamu tega meninggalkan aku? Jangan pernah menyerah Sher. Jangan kamu biarkan penyakit itu mengendalikanmu...”
Air mataku pecah seketika tanpa bisa kubendung lagi. Penyakit kangker otak yang menggerogoti Sherly sudah memasuki stadium empat. Aku tahu betapa hancur dan rapuhnya Sherly. Di saat mimpi-mimpinya yang belum tergapai, dia harus menelan pahitnya berjuang melawan penyakit mematikan itu. Namun, aku masih lega ketika melihat senyum yang selalu Sherly tunjukkan padaku, meskipun aku tahu senyum itu menyimpan beribu beban berat yang harus dipikulnnya. Senyum yang mungkin akan aku rindukan suatu saat nanti.
* * *
“Vi, sebenranya, ada seseorang yang pengen banget aku temui” suara Sherly bergelut diantara keramaian. Kami berdua duduk dengan buku yang sama-sama kami baca di depan fakultas bahasa. “Siapa Sher?” kualihkan pandanganku dari huruf-huruf yang tertapa rapi di kertas putih ini. Kulihat wajah Sherly sembari menunggu gerak bibirnya menjawab. “Aku ingin ketemu Edgar Vi. Kamu kenal dia kan?”.
“Edgar? Apakah Edgar yang dia maksud adalah Edgar yang ku kenal?” aku masih menerka-nerka dalam hati. “Maksudmu, Edgar anak fotografer itu?” tanyaku meminta kepastian. Sherly hanya mengangguk pelan dengan kedua ujung bibirnya yang terangkat.
“Jujur Vi, aku suka sama dia sejak dulu. Aku bener-bener merasa nyaman ada di sampingnya. Tapi, melihat kondisiku sekarang...” suara Sherly terhenti. “Mustahil aku bisa bersanding dengannya lebih lama” lanjutnya dengan tatapan penuh keputusasaan. Mendengar pengakuan Sherly, hatiku tersentak kaget. “Ternyata, lelaki yang selalu didambakannya selama ini adalah lelaki yang juga aku impikan” pelikku dalam hati.
Keesokan harinya, aku bertemu dengan Edgar di taman. Senja hari ini, tak sebaik senja kemarin. Awan-awan kelam menutupi rona langit yang indah. Semua hanya terlihat kelabu dengan gemerisik gesekan ranting yang terdengar ngilu.
“Ada apa Vi kamu mengajakku bertemu di sini?” suara Edgar mulai merayap diantara kicauan burung yang melintas di langit. Kutarik napas dalam-dalam seolah kata-kata ini akan menjadi cerita yang panjang. “Sherly sakit gar” mataku masih mentap kosong pada rerumputan hijau yang terhampar dihadapanku. Kalimat demi kalimat aku keluarkan untuk menjelaskan keadaan Sherly saat ini pada Edgar.
“Edgar, aku punya satu permintaan darimu. Tolong temani Sherly di saat-saat tersulit dalam hidupnya. Dia butuh kamu. Aku yakin, kamu pasti bisa memberinya semnagat yang lebih agar dia bisa melawan penyakitnya”. Mataku memohon penuh harap pada Edgar. “Lalu, apa yang bisa aku lakukan Vi?”. Suara Edgar terdengar lebih lantang dari sebelumnya. Kurendahkan suaraku dan berat hati aku berkata “Jadilah kekasihnya”.
“Kamu gila Vi? Aku gak mencintai dia. Aku hanya mengganggap dia sebagai teman, tidak lebih dari itu. Aku gak bisa Vi karena aku sudah terlanjur mencintai seseorang” suara tegas Edgar berdenging kuat di telingaku. Aku yang masih berpacu untuk membujuk Edgar, mulai kehabisan kata-kata.
“Tolonglah untuk sekali ini saja Gar... aku mohon!” kurasakan mataku mulai memerah dan pandanganku mulai buram akibat air mata yang perlahan menutupi. “Asalkan kamu tahu Vi, orang yang telah mengisi hatiku itu... kamu Vi”. Dan kini, air mataku mengalir perlahan melalui ujung mata. Tetes demi tetes semakin menghujam deras.
“Jika kamu mencintaiku, maka, kabulkanlah permintaanku. Berdalah di sampingnya”. Kata-kata itu masih bisa aku rangkai rapi di sela-sela isakanku yang coba aku redam. “Jika itu memang maumu, baiklah, aku akan menuruti kemauanmu Vi”.
Kata-kata itulah yang terkhir ku dengar dari mulut Edgar di senja ini. Kini aku aku hanya bisa tertunduk lemas dihadapan senja kelam. senja yang kini membiarkan air mataku membashi alasnya. Senja yang hanya bisa menyaksikan isakanku dari balik matanya. Dan senja yang mendekapku erat dalam pelukannya.
* * *
Waktu berputar begitu cepat, hingga kini aku berada di puncak kisah antara aku, Edgar dan Sherly. Edgar yang masih teguh akan kata-katanya, kini selau berada di samping Sherly. Melihat mereka bersama, entah senang atau sedih yang aku rasakan. Hati ini serasa tergores oleh kapas yang bgeitu lembut. Sakit memang menerima semua ini, tapi kebahagiaan Sherly tak bisa untuk aku tunda lagi. Aku tidak mungkin meninggikan egoku demi kebahagiaanku sendiri.
Dadaku semakin sesak ketika lelaki yang aku idamkan bersanding dengan sahabatku sendiri. Sekelebat bayangan antara dua pilihan “cinta” atua “sahabat” selalu membuat otakku serasa memar memikirkannya. Keduanya sama-sama  berharga bagiku. Apakah aku harus memperjuangkan cinta yang mulai mengetuk hatiku perlahan, atau tetap bersanding dengan persahabatan.
Aku tidak mengerti kenapa harus cinta Edgar yang berhasil membuka hatiku. Cinta yang tak pernah kuundang untuk sekedar singgah, malah berlabuh dengan tali-talinya yang mengikat kuat.
Namun, aku telah tetapkan pilihanku untuk melukiskan senyum di bibir Sherly. Meskipun aku tidak bisa mengurangi sakit yang di deritanya, tapi aku berharap bisa membantunya memikul beban berat yang melumpuhkannya saat ini.
* * *
Saat memilukan itu pun tiba. Saat dimana kondisi fisik Sherly terpuruk. Dalam kondisinya yang benar-benar buruk ini, Sherly memintaku dan Edgar untuk membawanya pergi ke taman. Senja itu, kami berdua pun membawa Sherly ke taman.
Sesampainya di taman, Sherly duduk tenang di atas kursi rodanya. Tiada satupun suara yang keluar dari mulut kami bertiga. Hanya keheningan senja yang mengitari kami. “Vi..” suara lemah Sherly memanggil namaku. “Iya Sher” sontak, kuayunkan tubuhku di hadapan Sherly. Kutatap mata nanar itu lekat-lekat. “Makasih atas semua kebahagiaan yang berikan ke aku selama ini. Aku bersyukur bisa punya teman seperti kamu”.
Selang beberapa detik, suara lemah Sherly kembali terdengar “Edgar..”. kali ini Edgar juga melakukan hal yang sama denganku. Di hadapan Edgar, senyum itu kembali kulihat dari bibir Sherly. “Makasih juga karena kamu selalu ada di sampingku. Dan aku punya satu permintaan untuk kamu”. “Apa Sher?” kini suara Edgar terdengar begitu tenang. “Tolong jaga Viola ya. Aku titip sahabatku ini. lindungi dia ya?” sebelum sempat Edgar menjawab, napas terakhir Sherly telah berhembus. Di balik wajahnya yang pucat, senyuman Sherly masih bisa aku lihat jelas. Senyuman yang sepertinya menandakan bahwa dia meninggalkan kami dengan tenang. Dan ternyata, inilah kisah yang terukir anatar kami bertiga.
Senja hanya memandangiku dengan tatapan memelas. Di balik senja ini, beribu cerita tersemat rapi menjadi relief kisah diantara rimbunan rumput hijau dan awan yang saling bertindih. Cerita akan tawa, canda, persahabata, perjuangan, kehilangan, dan kebahagiaan menjadi bait-bait sejarahku yang terukir abadi. Andai hidup adalah cerita novel yang bisa aku gores dan aku tentukan alur ceritanya, maka semua pasti akan berakrir bahagia. Namun, hidup bukanlah cerita klise dari sebuah novel, akan tetapi garis tangan yang telah ditentukan dimana akan indah pada waktunya.